Selasa, 14 Oktober 2014

LAPORAN PENELITIAN BK BELAJAR UPY



LAPORAN PENELITIAN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah PRAKTIKUM BIMBINGAN KONSELING BELAJAR
Tentang DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK
Dosen pengampu        : Dr.H.Sukadari,SE,SH,MM.

NAMA           :JANDIKO SAPUTRA
NIM                :12144200045
PRODI           : BIMBINGAN KONSELING
KELAS          :5A2

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2014

KASUS
1 IDENTIFIKASI KASUS
Nama                                  :          RP
Jenis Kelamin                    :          Laki-laki
Kelas                                  :          VIII D SMPN 2 Kasihan,Bantul,Yogyakarta.
Tempat, tanggal lahir        :          Bantul, 16 januari 2001
Agama                               :          Islam
Suku                                  :          Jawa
Alamat                              :           Kasihan tamantirto, kasihan Bantul, Yogyakarta
Anak ke                             :          
Nama Orang Tua
Ayah               :           Watono.
Ibu                   :           Ani.
Pendidikan Terakhir Orang Tua
Ayah               :           SMP.
Ibu                   :           SMA.
Pekerjaan Orang Tua
Ayah               :           Buruh.
Ibu                   :           Buruh.
2  IDENTIFIKASI MASALAH
            Dari praktikum yang telah dilakukan berdasarkan informasi dan dari melihat tingkah laku anak tersebut secara langsung di sekolah, anak yang bernama RP adalah termasuk salah satu anak yang bermasalah dalam proses pembelajaran, mengapa demikian. Karena dari hasil wawancara dengan guru BK, guru BK sekolah tersebut sedikit banyak mengurai masalah yang terjadi pada diri RP. Di sekolah RP bukan termasuk anak yang tertib, tetapi apabila dalam masuk sekolah si RP tidak  pernah mengalami hal yang namanya telat, tetapi yang dikatakan tidak tertib disini adalah bahwa RP pernah membiarkan rambutnya panjang, padahal disekolah tersebut seorang anak harus mempunyai rambut yang rapi. Dan RP juga pernah mencoret-coret dinding WC di sekolah itu masalah yang bisa dikatakan bahwa siswa tersebut tidak tertib dalam peraturan yang di berlakukan disekolah tersebut. Menurut informasi yang diberikan oleh guru BK di sekolahnya si RP memang mengalami masalah terhadap 1) tata tertib disekolah, 2) memilih teman yang salah, 3) cara berpakaian yang tidak rapi.
            Dari informasi sang guru dan melihat langsung ke lapangan si RP memang mengalami masalah dan dilihat dari penampilannya, dan masalah yang berkaitana dengan kegiatan pramuka, padahal disekolah tersebut pramuka itu wajib, dia menjelaskan tidak pernah bolos pramuka tetapi kenyataannya berbeda dengan apa yang terjadi dilapangan secara langsung.
            3 IDENTIFIKASI MASALAH UTAMA DAN PENYEBABNYA.
            Pada absen dikelas si RP tidak memiliki masalah dan sesuai dengan identifikasi masalah yang telah saya jelaskan diatas, hanya saja dia memiliki masalah terhadap tata tertib apabila dikelas maupun diluar kelas, dikelas RP termasuk anak yang jail karena RP tidak bisa mengikuti pelajaran dengan diam, setiap dimulai pelajaran RP sengaja mengajak atau membuat temannya marah dan akhirnya terjadi keributan. Dalam pemilihan teman RP juga memiliki kesalahan, karena RP memilih teman bukan yang bisa memotivasi dirinya lebih baik tetapi malah sebaliknya  membuat dirinya menjadi lebih tidak tertib untuk melakukan tata tertib.
            Orang tua dari RP juga tidak pernah mengingatkan tentang penampilannya apabila berangkat kesekolah, karena setiap RP mau berangkat sekolah orang tuanya telah berangkat dulu untuk bekerja, jadinya anak tersebut tata tertib kurang diperhatikan
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dapat diketahui masalah utama dari kasus adalah “tidak memiliki pandangan tentang motivasi terhadap perubahan prilaku yang lebih baik dari sebelumnya” sehingga termasuk dalam permasalahan aspek pribadi dengan  penyebab utama masalah adalah sebagai berikut.

a.       Faktor di dalam siswa
1)      Rendahnya motivasi,
2)      Tingkah laku yang salah



b.      Faktor di luar siswa
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dapat diketahui penyebab utama masalah dari dalam diri siswa adalah sebagai berikut.
1)      Teman yang salah
2)      Pembentukan tingkah laku oleh orang tua yang salah

4. ANALISIS.
Dalam menganalisa kasus ini saya sendiri secara pribadi lebih condong ke arah teori behavioristik, konseling behavioral memiliki asumsi dasar bahwa setiap tingkah laku dapat dipelajari, tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku baru dan manusia memiliki potensi untuk berprilaku baik atau buruk, tepat atau salah. Selain itu, manusia dipandang sebagai individu yang mampu melakukan refleksi atas tingkah lakunya sendiri, mengatur serta dapat mengontrol perilakunya, dan dapat belajar tingkah laku baru atau dapat mempengaruhi perilaku orang lain ( Walker dan Shea, 1988,p.36 ).
Sebelum kita memnganalisa teori behavioristik dengan hubungan terhadap konseli saya tadi tidak salahnya kita mengenal sejarah dari teori behavioristik ini. Pendekatan behavior di awali pada tahun 1950-an dan awal 1960-an sebagai awal redikal menentang persepektif psikoanalisis yang dominan. Secara garis besar, sejarah perkembangan behavioristik terdiri dari tiga trend utama, yaitu :
a.       Kondisioning klasik    ( classical conditioning ).
b.      Kondisioning operan   ( operant conditioning ).
c.       Terapi kognitif            ( cognitive therapy ).
Dalam hal analisa terhadap konseli saya ini saya akan menggunkan trend yang pertama yaitu kondisoning klasik ( classical conditioning ). Saya menggunakan trend ini karena menurut saya pada masalah konseli ini sangat berkaitan dengan prilaku. Jadi saya menfokuskan pada perubahan prilaku, karena teori ini sangat focus dalam perubahan prilaku. Saya secara pribadi ingin mengubah prilaku konseli saya tersebut menjadi lebih baik karena dia sulit untuk menyesuaikan diri dengan tata tertib yang ada pada lingkungan sekolah yang berkaitan dengan sikap dan sifatnya. Sedangkan sikap dan sifat termasuk prilaku. Pada proses pengubahan prilaku tadi saya akan menggunakan percobaan Pavlov yang menggunakan seekor hewan dalam prosesnya. Mungkin dengan menggunakan trend ini akan memicu stimulus konseli tersebut untuk berkelakuan atau berprilaku lebih baik dari sebelumnya dan dapat menyesuaikan diri dengan tata tertib di lingkungan sekolah

PROGNOSIS.
Langkah – langkah
Proses kondisoning pada penelitian ini adalah stimulus yang digunakan dorongan dan sikap penerimaan. Pada percobaan pertama, tahapannya adalah conditioning stimulus ( CS ) berupa dorongan dan unconditioning stimulus ( US ) adalah sikap penerimaan serta unconditiong response ( UR ) bisa mengikuti tata tertib. Ketika percobaan pertama, dorongan dilakukan oleh teman terdekat dan tidak bisa mengikuti tata tertib, dan apabila di beri sikap penerimaan menghasilkan sikap bisa mengikuti tata tertib. Kemudian percobaan kedua proses kondisioning, CS berupa dorongan di ikuti US berupa sikap penerimaan dengan di ulang sebanyak 10 sampai 20 kali. Setelah terbentuk asosisi antar CS dan US, ketika CS diberikan berupa dorongan tanpa US berupa sikap penerimaan, diikuti CR yaitu bisa mengikuti tata tertib. Intinya apabila di beri sikap penerimaan maka konseli bisa mengikuti tata tertib, tetapi sebaliknya apabila hanya di berikan dorongan tanpa adanya sikap penerimaan hasilnya konseli tersebut tidak bisa mengikuti tata tertib, apabila di beri dorongan dan sikap penerimaan sudah bisa di pastikan bahwa konseli bisa mengikuti tata tertib dan akhirnya setelah melakukan ketiga hal tadi tanpa dikasih sikap penerimaan konseli tersebut masih tetap bisa mengikuti tata tertib karena telah melakukan proses tersebut. Jadi setelah di lakukan percobaan kedua dengan trendnya Pavlov akhirnya konseli bisa mengikuti tata tertib dan bisa membuatnya berubah dari titik ternyaman  dari dirinya. Di sini saya akan menampilkan gambar proses tersebut tetapi dengan menggunakan hewan bukan manusia.



Gambar : percobaan proses Pavlov.
index.jpg
Penanganan.
Teknik konseling behavioristik terdiri dari dua jenis yaitu teknik untuk meningkatkan tingkah laku dan menurunkan tingkah laku. Teknik meningkatkan tingkah laku antara lain adalah penguatan positif, token ekonomi, pembentukan tingkah laku, dan pembuatan kontrak. Tetapi pada proses ini sangat cocok dengan pembentukan tingkah laku atau shaping.
Penanganan yang di lakukan adalah dengan pendekatan behaviorisme dengan menfokuskan pada proses “ pembentukan tingkah laku “ langkah-langkahnya adalah

a.       Memberikan gambaran pembentukan tingkah laku baru dan hasil positif dari pembentukan tingkah laku baru tersebut supaya konseli bisa berpikir lebih baik.
b.      Menampilkan film yang berkaitan dengan sikap yang kurang tertib terhadap tata tertib di sekolah dan film tersebut harus menampilkan sisi negative dari sifat tersebut serta adanya adegan dari pemain film tersebut yang menyesal dengan prilakunya yang kurang tertib terhadap tata tertib disekolah. Makna dari filmnya tersebut harus membuat konseli tersebut berpikir bagaimana apabila prilaku kurang tertib terhadap tata tertib sekolah terus dilakukan, karena apabila prilaku tersebut masih seperti itu kita akan dijauhi oleh teman-teman dan akhirnya tidak mempunyai teman. Sehingga film ini harus membuat konseli tersebut berpikir harus memiliki banyak teman dengan cara menghilangkan prilaku yang sering melanggar tata tertib di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
Komalasari, Gantika dkk. ( 2011 ). Teori dan teknik konseling. Jakarta  barat : PT Indeks.
Nurihsan, achmad juntika dkk. ( 2011 ). Teori kepribadian. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Alwisol. ( 2012 ). Psikologi kepribadian. Malang : PT UMM Press.
Corey,Gerald. ( 2013 ). Teori dan praktek konseling & psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama















LAMPIRAN.

PROSES SAAT MELAKUKAN WAWANCARA DENGAN GURU BK SMPN 2 KASIHAN, BANTUL, YOGYAKARTA.

GURU BK ( BU JIRU )                                 SAYA ( JANDIKO SAPUTRA )
20141008_080811.jpg

20141008_093502.jpg
 KLIEN ( RANDI PRATAMA )
PROSES WAWANCARA DENGAN  KLIEN.
20141008_080820.jpg
20141008_093437.jpg
20141008_080906.jpg
20141008_075022.jpg
TEMAN SEJAWAT DALAM PROSES WAWANCARA DI SMPN 2 KASIHAN, BANTUL, YOGYAKARTA.
1.      YUNITA WULANDARI.
2.      SEPTIYANA PRATIWI.
3.      JANDIKO SAPUTRA
4.      EVI SUSANTI.