LAPORAN PENELITIAN BK BELAJAR UPY
LAPORAN PENELITIAN
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah PRAKTIKUM BIMBINGAN KONSELING BELAJAR
Tentang
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK
Dosen
pengampu : Dr.H.Sukadari,SE,SH,MM.

NAMA :JANDIKO SAPUTRA
NIM :12144200045
PRODI : BIMBINGAN KONSELING
KELAS :5A2
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN
KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2014
KASUS
1 IDENTIFIKASI KASUS
Nama
: RP
Jenis
Kelamin : Laki-laki
Kelas
: VIII D SMPN 2 Kasihan,Bantul,Yogyakarta.
Tempat,
tanggal lahir : Bantul, 16 januari 2001
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat
: Kasihan tamantirto, kasihan Bantul,
Yogyakarta
Anak
ke :
Nama
Orang Tua
Ayah :
Watono.
Ibu :
Ani.
Pendidikan
Terakhir Orang Tua
Ayah :
SMP.
Ibu :
SMA.
Pekerjaan
Orang Tua
Ayah :
Buruh.
Ibu : Buruh.
2
IDENTIFIKASI MASALAH
Dari praktikum yang telah dilakukan
berdasarkan informasi dan dari melihat tingkah laku anak tersebut secara
langsung di sekolah, anak yang bernama RP adalah termasuk salah satu anak yang
bermasalah dalam proses pembelajaran, mengapa demikian. Karena dari hasil
wawancara dengan guru BK, guru BK sekolah tersebut sedikit banyak mengurai
masalah yang terjadi pada diri RP. Di sekolah RP bukan termasuk anak yang
tertib, tetapi apabila dalam masuk sekolah si RP tidak pernah mengalami hal yang namanya telat,
tetapi yang dikatakan tidak tertib disini adalah bahwa RP pernah membiarkan
rambutnya panjang, padahal disekolah tersebut seorang anak harus mempunyai
rambut yang rapi. Dan RP juga pernah mencoret-coret dinding WC di sekolah itu
masalah yang bisa dikatakan bahwa siswa tersebut tidak tertib dalam peraturan
yang di berlakukan disekolah tersebut. Menurut informasi yang diberikan oleh
guru BK di sekolahnya si RP memang mengalami masalah terhadap 1) tata tertib
disekolah, 2) memilih teman yang salah, 3) cara berpakaian yang tidak rapi.
Dari informasi sang guru dan melihat
langsung ke lapangan si RP memang mengalami masalah dan dilihat dari
penampilannya, dan masalah yang berkaitana dengan kegiatan pramuka, padahal
disekolah tersebut pramuka itu wajib, dia menjelaskan tidak pernah bolos
pramuka tetapi kenyataannya berbeda dengan apa yang terjadi dilapangan secara
langsung.
3
IDENTIFIKASI MASALAH UTAMA DAN PENYEBABNYA.
Pada absen dikelas si RP tidak
memiliki masalah dan sesuai dengan identifikasi masalah yang telah saya
jelaskan diatas, hanya saja dia memiliki masalah terhadap tata tertib apabila
dikelas maupun diluar kelas, dikelas RP termasuk anak yang jail karena RP tidak
bisa mengikuti pelajaran dengan diam, setiap dimulai pelajaran RP sengaja
mengajak atau membuat temannya marah dan akhirnya terjadi keributan. Dalam
pemilihan teman RP juga memiliki kesalahan, karena RP memilih teman bukan yang
bisa memotivasi dirinya lebih baik tetapi malah sebaliknya membuat dirinya menjadi lebih tidak tertib
untuk melakukan tata tertib.
Orang tua dari RP juga tidak pernah
mengingatkan tentang penampilannya apabila berangkat kesekolah, karena setiap
RP mau berangkat sekolah orang tuanya telah berangkat dulu untuk bekerja,
jadinya anak tersebut tata tertib kurang diperhatikan
Berdasarkan
hasil identifikasi masalah dapat diketahui masalah utama dari kasus adalah “tidak memiliki pandangan tentang motivasi
terhadap perubahan prilaku yang lebih baik dari sebelumnya” sehingga
termasuk dalam permasalahan aspek pribadi dengan penyebab utama masalah adalah sebagai
berikut.
a. Faktor
di dalam siswa
1) Rendahnya
motivasi,
2) Tingkah
laku yang salah
b. Faktor
di luar siswa
Berdasarkan
hasil identifikasi masalah dapat diketahui penyebab utama masalah dari dalam
diri siswa adalah sebagai berikut.
1) Teman
yang salah
2) Pembentukan
tingkah laku oleh orang tua yang salah
4. ANALISIS.
Dalam
menganalisa kasus ini saya sendiri secara pribadi lebih condong ke arah teori
behavioristik, konseling behavioral memiliki asumsi dasar bahwa setiap tingkah
laku dapat dipelajari, tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku baru
dan manusia memiliki potensi untuk berprilaku baik atau buruk, tepat atau salah.
Selain itu, manusia dipandang sebagai individu yang mampu melakukan refleksi
atas tingkah lakunya sendiri, mengatur serta dapat mengontrol perilakunya, dan
dapat belajar tingkah laku baru atau dapat mempengaruhi perilaku orang lain (
Walker dan Shea, 1988,p.36 ).
Sebelum
kita memnganalisa teori behavioristik dengan hubungan terhadap konseli saya
tadi tidak salahnya kita mengenal sejarah dari teori behavioristik ini.
Pendekatan behavior di awali pada tahun 1950-an dan awal 1960-an sebagai awal
redikal menentang persepektif psikoanalisis yang dominan. Secara garis besar,
sejarah perkembangan behavioristik terdiri dari tiga trend utama, yaitu :
a.
Kondisioning klasik ( classical conditioning ).
b.
Kondisioning operan ( operant conditioning ).
c.
Terapi kognitif ( cognitive therapy ).
Dalam hal analisa terhadap konseli saya ini saya
akan menggunkan trend yang pertama yaitu kondisoning klasik ( classical
conditioning ). Saya menggunakan trend ini karena menurut saya pada masalah
konseli ini sangat berkaitan dengan prilaku. Jadi saya menfokuskan pada
perubahan prilaku, karena teori ini sangat focus dalam perubahan prilaku. Saya
secara pribadi ingin mengubah prilaku konseli saya tersebut menjadi lebih baik
karena dia sulit untuk menyesuaikan diri dengan tata tertib yang ada pada
lingkungan sekolah yang berkaitan dengan sikap dan sifatnya. Sedangkan sikap
dan sifat termasuk prilaku. Pada proses pengubahan prilaku tadi saya akan
menggunakan percobaan Pavlov yang menggunakan seekor hewan dalam prosesnya.
Mungkin dengan menggunakan trend ini akan memicu stimulus konseli tersebut
untuk berkelakuan atau berprilaku lebih baik dari sebelumnya dan dapat menyesuaikan
diri dengan tata tertib di lingkungan sekolah
PROGNOSIS.
Langkah – langkah
Proses
kondisoning pada penelitian ini adalah stimulus yang digunakan dorongan dan
sikap penerimaan. Pada percobaan pertama, tahapannya adalah conditioning
stimulus ( CS ) berupa dorongan dan unconditioning stimulus ( US ) adalah sikap
penerimaan serta unconditiong response ( UR ) bisa mengikuti tata tertib.
Ketika percobaan pertama, dorongan dilakukan oleh teman terdekat dan tidak bisa
mengikuti tata tertib, dan apabila di beri sikap penerimaan menghasilkan sikap
bisa mengikuti tata tertib. Kemudian percobaan kedua proses kondisioning, CS berupa
dorongan di ikuti US berupa sikap penerimaan dengan di ulang sebanyak 10 sampai
20 kali. Setelah terbentuk asosisi antar CS dan US, ketika CS diberikan berupa
dorongan tanpa US berupa sikap penerimaan, diikuti CR yaitu bisa mengikuti tata
tertib. Intinya apabila di beri sikap penerimaan maka konseli bisa mengikuti
tata tertib, tetapi sebaliknya apabila hanya di berikan dorongan tanpa adanya
sikap penerimaan hasilnya konseli tersebut tidak bisa mengikuti tata tertib,
apabila di beri dorongan dan sikap penerimaan sudah bisa di pastikan bahwa
konseli bisa mengikuti tata tertib dan akhirnya setelah melakukan ketiga hal
tadi tanpa dikasih sikap penerimaan konseli tersebut masih tetap bisa mengikuti
tata tertib karena telah melakukan proses tersebut. Jadi setelah di lakukan
percobaan kedua dengan trendnya Pavlov akhirnya konseli bisa mengikuti tata
tertib dan bisa membuatnya berubah dari titik ternyaman dari dirinya. Di sini saya akan menampilkan
gambar proses tersebut tetapi dengan menggunakan hewan bukan manusia.
Gambar
: percobaan proses Pavlov.

Penanganan.
Teknik
konseling behavioristik terdiri dari dua jenis yaitu teknik untuk meningkatkan
tingkah laku dan menurunkan tingkah laku. Teknik meningkatkan tingkah laku
antara lain adalah penguatan positif, token ekonomi, pembentukan tingkah laku,
dan pembuatan kontrak. Tetapi pada proses ini sangat cocok dengan pembentukan
tingkah laku atau shaping.
Penanganan
yang di lakukan adalah dengan pendekatan behaviorisme dengan menfokuskan pada
proses “ pembentukan tingkah laku “ langkah-langkahnya adalah
a.
Memberikan gambaran pembentukan tingkah
laku baru dan hasil positif dari pembentukan tingkah laku baru tersebut supaya
konseli bisa berpikir lebih baik.
b.
Menampilkan film yang berkaitan dengan
sikap yang kurang tertib terhadap tata tertib di sekolah dan film tersebut
harus menampilkan sisi negative dari sifat tersebut serta adanya adegan dari
pemain film tersebut yang menyesal dengan prilakunya yang kurang tertib
terhadap tata tertib disekolah. Makna dari filmnya tersebut harus membuat
konseli tersebut berpikir bagaimana apabila prilaku kurang tertib terhadap tata
tertib sekolah terus dilakukan, karena apabila prilaku tersebut masih seperti
itu kita akan dijauhi oleh teman-teman dan akhirnya tidak mempunyai teman.
Sehingga film ini harus membuat konseli tersebut berpikir harus memiliki banyak
teman dengan cara menghilangkan prilaku yang sering melanggar tata tertib di
sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Komalasari,
Gantika dkk. ( 2011 ). Teori dan teknik
konseling. Jakarta barat : PT
Indeks.
Nurihsan,
achmad juntika dkk. ( 2011 ). Teori
kepribadian. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Alwisol.
( 2012 ). Psikologi kepribadian.
Malang : PT UMM Press.
Corey,Gerald.
( 2013 ). Teori dan praktek konseling
& psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama
LAMPIRAN.
PROSES
SAAT MELAKUKAN WAWANCARA DENGAN GURU BK SMPN 2 KASIHAN, BANTUL, YOGYAKARTA.

GURU BK ( BU JIRU ) SAYA ( JANDIKO
SAPUTRA )


KLIEN ( RANDI PRATAMA )
PROSES
WAWANCARA DENGAN KLIEN.







TEMAN
SEJAWAT DALAM PROSES WAWANCARA DI SMPN 2 KASIHAN, BANTUL, YOGYAKARTA.
1.
YUNITA WULANDARI.
2.
SEPTIYANA PRATIWI.
3.
JANDIKO SAPUTRA
4.
EVI SUSANTI.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda