Rabu, 15 April 2015

UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN MINAT MELANJUTKAN KE PERGURUAN TINGGI DI SMA NEGERI 1 KASIHAN TAHUN AJARAN 2014/2015. PROPOSAL PENELITIAN Disusun oleh : Jandiko Saputra NIM : 12144200045 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA 2015 UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN MINAT MELANJUTKAN KE PERGURUAN TINGGI DI SMA NEGERI 1 KASIHAN TAHUN AJARAN 2014/2015. A. Latar belakang. Dalam menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Menurut UU No. 20 tahun 2003 Bab VI Pasal 13 Ayat 1 jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. (UU No. 20 Tahun 2003 Bab I, Pasal 1 Ayat 8). Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Pendidikan tinggi diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut lembaga pendidikan tinggi melaksanakan misi “Tridharma” pendidikan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam ruang lingkup tanah air Indonesia sebagai kesatuan wilayah pendidikan nasional. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas. Output pendidikan tinggi diharapkan dapat mengisi kebutuhan yang beraneka ragam dalam masyarakat. Dari segi peserta didik kenyataan menunjukkan bahwa minat dan bakat mereka beraneka ragam. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka perguruan tinggi disusun dalam multistrata. Suatu perguruan tinggi dapat menyelenggarakan satu strata atau lebih. Minat dan kebutuhan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan adalah alasan mendasar dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Minat dalam diri individu akan mendorong seseorang melakukan suatu tindakan untuk mencapai keinginannya dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Minat melanjutkan ke perguruan tinggi tidak hanya dapat dipengaruhi oleh satu sudut pandang, akan tetapi dari beberapa sudut pandang. Beberapa sudut pandang atau faktor yang mempengaruhi minat seseorang untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi dapat berasal dari faktor internal (fisiologis, dan psikologis) ataupun external (sosial, dan non sosial). Minat dan Taraf pendidikan yang lebih tinggi suatu bangsa tidak terjadi begitu saja, melainkan ditentukan oleh berbagai faktor antara lain kualitas pendidikan, program pendidikannya, sistem pelayanan, sarana pendidikan dan pembiayaan atau sarana ekonominya. Selain dari berbagai faktor tersebut di atas, suatu sistem persekolahan yang solid antara pendidikan Sekolah Dasar (SD), Pendidikan Sekolah Menengah, dan pendidikan tinggi turut menentukan kualitas pendidikan suatu bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas serangkaian usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain pengembangan lembaga-lembaga pendidikan utamanya lembaga Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta. Di tengah-tengah usaha pemerintah meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, masih sering dijumpai berbagai masalah seperti masalah yang senantiasa dialami oleh siswa, khususnya siswa SMU yaitu belum jelasnya rencana jenis pendidikan yang akan ditekuni kelak. Namun demikian ada sebagian siswa SMU yang kurang berminat dalam melanjutkan pendidikan pada Perguruan Tinggi, karena disebabkan oleh siswa itu sendiri, orang tua, teman dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan siswa yang akan melanjutkan pendidikan pada Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta masih mempertanyakan jenis pendidikan apa yang akan ditempuh setelah tamat SMU. Dari fenomena diatas penulis sangat tertarik untuk meneliti bagaimana minat peserta didik melanjutkan ke perguruan tinggi dengan judul upaya guru bk dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015. B. Rumusan masalah. Dalam penelitian ini peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah upaya guru bk dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 ? 2. Apakah factor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 ? C. Tujuan penelitian. Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan Penelitian yang ingin di capai adalah: 1. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan upaya- upaya guru bk dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 . 2. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015. D. Manfaat penelitian. 1. Manfaat teoritis. Penelitian ini diharapkan dapat menunjukan bahwa konseling yang dilakukan oleh guru bk di SMA Negeri 1 kasihan dapat meningkatkan minat melanjutkan keperguruan tinggi. 2. Manfaat praktis. Penelitian ini dapat berguna sebagai masukan dalam menentukan kebijakan lebih lanjut bagi SMA Negeri 1 kasihan mengenai peranan guru bk dalam membangun siswa meningkatkan minat melanjutkan keperguruan tinggi. Bab II Kajian pustaka. A. Kajian teori. 1. Pengertian minat melanjutkan ke perguruan tinggi. Slameto (2003: 180) menyatakan bahwa suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa seseorang lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh setelah seseorang melakukan berbagai kegiatan yang menimbulkan ketertarikan dan perhatian lebih. Minat pada umumnya berkelanjutan, artinya minat-minat yang dimiliki seseorang sebelumnya akan memberikan kontribusi berupa dorongan terhadap minat-minat yang baru. Muhibin syah ( 2009:175 ) minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi adalah ketertarikan siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi yang tumbuh secara sadar dalam diri siswa tersebut. Ketertariakn tersebut menyebabkan siswa memberikan perhatian yang lebih terhadap perguruan tinggi yang mereka masuki. 2. Faktor yang mempengaruhi minat melanjutkan ke perguruan tinggi. Adapun faktor yang mempengaruhi minat melanjutkan ke pergurtuan tinggi moh. Surya ( 1999 ) adalah : a. Bersumber pada diri siswa tersebut. b. Tidak mempunyai tujuan yang jelas. c. Bermanfaat atau tidaknya sesuatu yang dipelajari bagi individu siswa. Apabila melanjutkan keperguruan tinggi dirasakan kurang bermanfaat bagi individu siswa akan terkesan menghindar. d. Adanya masalah atau kesukaran jiwa. 3. Upaya guru bk. a. Sosialiasi. 1. Soejono Dirdjosisworo Menurut pendapat Soejono Dirdjosisworo (1985), sosialisasi mengandung tiga pengertian penting, yaitu: • Proses sosialisasi adalah proses belajar, yaitu suatu proses akomodasi yang mana individu menahan, mengubah impulsimpuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya. • Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah laku, dan ukuran kepatuhan tingkah laku di dalam masyarakat di mana ia hidup. • Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan dalam diri pribadinya. 2. Charlotte Buhler Sosialisasi adalah sebuah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya, agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. 3. Peter L. Berger Sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Kesimpulan dari beberapa pengertian diatas bahwa sosialiasi adalah suatu proses yang membantu individu untuk belajar menyeseuaikan diri di masyarakat atau sekolah maupun perguruan tinggi sehingga bisa mengembangkan dirinya untuk membentuk minat atau ketertarikan pada suatu hal tertentu. Pada sosialiasi yang dimaksud ini adalah untuk menjelaskan perguruan tinggi atau serta dampak positif dari kita melanjutkan ke perguruan tinggi dan bagaimana caranya sehingga minat untuk melanjutkan keperguruan tinggi itu tumbuh dengan sendirinya dan akhirnya menjadikan stimulus bagi individu untuk melanjutkan keperguruan tinggi tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Sosialisasi ini dengan cara pemanggilan atau pun bimbingan kelompok bagi kelas XII yang telah siap atau selangkah lagi untuk menghadapi pilihan melanjutkan keperguruan tinggi atau pilihan lainnya. B. Kerangka berpikir. Minat sangat berperan penting dalam melanjutkan keperguruan tinggi, karena minat menyebabkan siswa memberikan perhatian yang lebih terhadap perguruan tinggi yang mereka masuki. Ada beberapa factor minat melanjutkan keperguruan tinggi yang bisa menumbuhkan minat tersebut. Sosialisasi merupakan salah satu cara untuk menjelaskan tentang perguruan tinggi pada peserta didik yang kurang mengetahui penting atau dampak positifnya dari melanjutkan ke perguruan tinggi, sosialisasi disini dengan menggunakan bimbingan kelompok khususnya untuk kelas XII yang telah siap untuk melanjutkan keperguruan tinggi. C. Pertanyaan penelitian. 1. Bagaimanakah upaya guru bk dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 ? 2. Bagaimanakah guru bk mengetahui factor pendukung dan penghambat minat melanjutkan keperguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 ? Bab III Metode penelitian. A. Jenis penelitian. Secara teoritis format penelitian kualitatif berbeda dengan format penelitian kuantitatif. Perbedaan tersebut terletak pada kesulitan dalam membuat desain penelitian kualitatif, karena pada umumnya penelitian kualitatif yang tidak berpola.Format desain penelitian kualitatif terdiri dari tiga model, yaitu format deskriptif, format verifikasi, dan format grounded research. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif, yaitu penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu ataukelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi. (Koentjaraningrat, 1993:89). Selanjutnya penelitian kualitatifmenurut Moleong (2007:6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi,motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.Menurut Bogdan dan Taylor (1975) yang dikutip oleh Moleong (2007:4)mengemukakan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.Selanjutnya dijelaskan oleh David Williams (1995) seperti yang dikutip Moleong (2007:5) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah. kualitatif bertujuan memperoleh gambaran seutuhnya mengenai suatu hal menurut pandangan manusia yang diteliti. Penelitian kualitatifberhubungan dengan ide, persepsi, pendapat atau kepercayaan orang yang diteliti dan kesemuanya tidak dapat diukur dengan angka. B. Subjek dan objek penelitian. Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Objek penelitian adalah obyek yang dijadikan penelitian atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas XII baik IPA maupun IPS di SMAN 1 kasihan yang berjumlah 115 anak yang terdiri dari 75 perempuan dan 40 laki laki. Yang menjadi objek penelitian yaitu meningkatkan minat melanjutkan keperguruan tinggi di SMAN 1 kasihan. C. Tempat dan waktu pelaksanaan. Dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel. Istilah yang digunakan adalah setting atau tempat penelitian. tempat penelitiannya adalah SMAN 1 kasihan. Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 5 april 2015 s/d 5 mei 2015. D. Teknik pengumpulan data. Dalam penelitiaan ini, peneliti menggunakan 2 teknik pengumpulan data, yaitu : 1. Wawancara Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998) Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara : a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan. b. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu. c. Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan. Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu : a. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik. b. Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai. c. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat. d. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer. 2. Observasi Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian. Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena : a. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, b. berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif. c. Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari. d. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara. Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti. E. Alat pembantu pengumpulan data. Menurut Poerwandari (1998) penulis sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut, mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil penelitian. Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat Bantu (instrumen penelitian). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 3 alat bantu, yaitu : 1. Pedoman wawancara Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 2. Pedoman Observasi Pedoman observasi digunakan agar peneliti dapat melakukan pengamatan sesuai dengan tujuan penelitian. Pedoman observasi disusun berdasrkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara, serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan informasi yang muncul pada saat berlangsungnya wawancara. 3. Alat Perekam Alat perekam berguna Sebagai alat Bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tampa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung. F. Keabsahan dan keajengan penelitian. Studi kasus ini menggunakan penelitian pendekatan kualitataif. Yin (2003) mengajukan emmpat criteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut adalah Sebagai berikut : 1. Keabsahan Konstruk (Construct validity) Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang berukur benar- benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau Sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut Patton (dalam Sulistiany 1999) ada 4 macam triangulasi Sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu : a. Triangulasi data Mengguanakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memeiliki sudut pandang yang berbeda. b. Triangulasi Pengamat Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus bertindak Sebagai pengamat (expert judgement) yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data. c. Triangulasi Teori Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut. d. Triangulasi metode Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi pada saat wawancra dilakukan. 2. Keabsahan Internal (Internal validity) Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda. 3. Keabsahan Eksternal (Eksternal validity) Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama. 4. Keajegan (Reabilitas) Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi. Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memeperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menujukan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data. G. Teknik analisis data. Marshall dan Rossman mengajukan teknik analisa data kualitatif untuk proses analisis data dalam penelitian ini. Dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan (Marshall dan Rossman dalam Kabalmay, 2002), diantaranya : 1. Mengorganisasikan Data Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape recoeder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis secara verbatim. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang agar penulis mengerti benar data atau hasil yang telah di dapatkan. 2. Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan pola jawaban Pada tahap ini dibutuhkan pengertiaan yang mendalam terhadap data, perhatiaan yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam mekukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti kemudian kembali membaca transkip wawancara dan melakukan coding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokan atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat. Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang diteliti. Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokan tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan tema-tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat menangkap penagalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada subjek. 3. Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data Setelah kategori pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji data tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kemabali berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga dapat dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis tertentu, namun dari landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi mengenai hubungan antara konsep-konsep dan factor-faktor yang ada. 4. Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dan berdasarkan kesimpulan yang telah didapat dari kaitanya tersebut, penulis merasa perlu mencari suatau alternative penjelasan lain tetnag kesimpulan yang telah didapat. Sebab dalam penelitian kualitatif memang selalu ada alternative penjelasan yang lain. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdpat hal-hal yang menyimpang dari asumsi atau tidak terfikir sebelumnya. Pada tahap ini akan dijelaskan dengan alternative lain melalui referensi atau teori-teori lain. Alternatif ini akan sangat berguna pada bagian pembahasan, kesimpulan dan saran. 5. Menulis Hasil Penelitian Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu hal yang membantu penulis unntuk memeriksa kembali apakah kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakaiadalah presentase data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek dan significant other. Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari subjek dan significant other, dibaca berulang kali sehinggga penulis mengerti benar permasalahanya, kemudian dianalisis, sehingga didapat gambaran mengenai penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya dilakukan interprestasi secara keseluruhan, dimana di dalamnya mencangkup keseluruhan kesimpulan dari hasil penelitian.

UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN MINAT MELANJUTKAN KE PERGURUAN TINGGI DI SMA NEGERI 1 KASIHAN TAHUN AJARAN 2014/2015. PROPOSAL PENELITIAN Disusun oleh : Jandiko Saputra NIM : 12144200045 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA 2015 UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN MINAT MELANJUTKAN KE PERGURUAN TINGGI DI SMA NEGERI 1 KASIHAN TAHUN AJARAN 2014/2015. A. Latar belakang. Dalam menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Menurut UU No. 20 tahun 2003 Bab VI Pasal 13 Ayat 1 jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. (UU No. 20 Tahun 2003 Bab I, Pasal 1 Ayat 8). Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Pendidikan tinggi diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut lembaga pendidikan tinggi melaksanakan misi “Tridharma” pendidikan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam ruang lingkup tanah air Indonesia sebagai kesatuan wilayah pendidikan nasional. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas. Output pendidikan tinggi diharapkan dapat mengisi kebutuhan yang beraneka ragam dalam masyarakat. Dari segi peserta didik kenyataan menunjukkan bahwa minat dan bakat mereka beraneka ragam. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka perguruan tinggi disusun dalam multistrata. Suatu perguruan tinggi dapat menyelenggarakan satu strata atau lebih. Minat dan kebutuhan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan adalah alasan mendasar dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Minat dalam diri individu akan mendorong seseorang melakukan suatu tindakan untuk mencapai keinginannya dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Minat melanjutkan ke perguruan tinggi tidak hanya dapat dipengaruhi oleh satu sudut pandang, akan tetapi dari beberapa sudut pandang. Beberapa sudut pandang atau faktor yang mempengaruhi minat seseorang untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi dapat berasal dari faktor internal (fisiologis, dan psikologis) ataupun external (sosial, dan non sosial). Minat dan Taraf pendidikan yang lebih tinggi suatu bangsa tidak terjadi begitu saja, melainkan ditentukan oleh berbagai faktor antara lain kualitas pendidikan, program pendidikannya, sistem pelayanan, sarana pendidikan dan pembiayaan atau sarana ekonominya. Selain dari berbagai faktor tersebut di atas, suatu sistem persekolahan yang solid antara pendidikan Sekolah Dasar (SD), Pendidikan Sekolah Menengah, dan pendidikan tinggi turut menentukan kualitas pendidikan suatu bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas serangkaian usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain pengembangan lembaga-lembaga pendidikan utamanya lembaga Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta. Di tengah-tengah usaha pemerintah meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, masih sering dijumpai berbagai masalah seperti masalah yang senantiasa dialami oleh siswa, khususnya siswa SMU yaitu belum jelasnya rencana jenis pendidikan yang akan ditekuni kelak. Namun demikian ada sebagian siswa SMU yang kurang berminat dalam melanjutkan pendidikan pada Perguruan Tinggi, karena disebabkan oleh siswa itu sendiri, orang tua, teman dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan siswa yang akan melanjutkan pendidikan pada Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta masih mempertanyakan jenis pendidikan apa yang akan ditempuh setelah tamat SMU. Dari fenomena diatas penulis sangat tertarik untuk meneliti bagaimana minat peserta didik melanjutkan ke perguruan tinggi dengan judul upaya guru bk dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015. B. Rumusan masalah. Dalam penelitian ini peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah upaya guru bk dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 ? 2. Apakah factor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 ? C. Tujuan penelitian. Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan Penelitian yang ingin di capai adalah: 1. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan upaya- upaya guru bk dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 . 2. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015. D. Manfaat penelitian. 1. Manfaat teoritis. Penelitian ini diharapkan dapat menunjukan bahwa konseling yang dilakukan oleh guru bk di SMA Negeri 1 kasihan dapat meningkatkan minat melanjutkan keperguruan tinggi. 2. Manfaat praktis. Penelitian ini dapat berguna sebagai masukan dalam menentukan kebijakan lebih lanjut bagi SMA Negeri 1 kasihan mengenai peranan guru bk dalam membangun siswa meningkatkan minat melanjutkan keperguruan tinggi. Bab II Kajian pustaka. A. Kajian teori. 1. Pengertian minat melanjutkan ke perguruan tinggi. Slameto (2003: 180) menyatakan bahwa suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa seseorang lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh setelah seseorang melakukan berbagai kegiatan yang menimbulkan ketertarikan dan perhatian lebih. Minat pada umumnya berkelanjutan, artinya minat-minat yang dimiliki seseorang sebelumnya akan memberikan kontribusi berupa dorongan terhadap minat-minat yang baru. Muhibin syah ( 2009:175 ) minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi adalah ketertarikan siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi yang tumbuh secara sadar dalam diri siswa tersebut. Ketertariakn tersebut menyebabkan siswa memberikan perhatian yang lebih terhadap perguruan tinggi yang mereka masuki. 2. Faktor yang mempengaruhi minat melanjutkan ke perguruan tinggi. Adapun faktor yang mempengaruhi minat melanjutkan ke pergurtuan tinggi moh. Surya ( 1999 ) adalah : a. Bersumber pada diri siswa tersebut. b. Tidak mempunyai tujuan yang jelas. c. Bermanfaat atau tidaknya sesuatu yang dipelajari bagi individu siswa. Apabila melanjutkan keperguruan tinggi dirasakan kurang bermanfaat bagi individu siswa akan terkesan menghindar. d. Adanya masalah atau kesukaran jiwa. 3. Upaya guru bk. a. Sosialiasi. 1. Soejono Dirdjosisworo Menurut pendapat Soejono Dirdjosisworo (1985), sosialisasi mengandung tiga pengertian penting, yaitu: • Proses sosialisasi adalah proses belajar, yaitu suatu proses akomodasi yang mana individu menahan, mengubah impulsimpuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya. • Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah laku, dan ukuran kepatuhan tingkah laku di dalam masyarakat di mana ia hidup. • Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan dalam diri pribadinya. 2. Charlotte Buhler Sosialisasi adalah sebuah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya, agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. 3. Peter L. Berger Sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Kesimpulan dari beberapa pengertian diatas bahwa sosialiasi adalah suatu proses yang membantu individu untuk belajar menyeseuaikan diri di masyarakat atau sekolah maupun perguruan tinggi sehingga bisa mengembangkan dirinya untuk membentuk minat atau ketertarikan pada suatu hal tertentu. Pada sosialiasi yang dimaksud ini adalah untuk menjelaskan perguruan tinggi atau serta dampak positif dari kita melanjutkan ke perguruan tinggi dan bagaimana caranya sehingga minat untuk melanjutkan keperguruan tinggi itu tumbuh dengan sendirinya dan akhirnya menjadikan stimulus bagi individu untuk melanjutkan keperguruan tinggi tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Sosialisasi ini dengan cara pemanggilan atau pun bimbingan kelompok bagi kelas XII yang telah siap atau selangkah lagi untuk menghadapi pilihan melanjutkan keperguruan tinggi atau pilihan lainnya. B. Kerangka berpikir. Minat sangat berperan penting dalam melanjutkan keperguruan tinggi, karena minat menyebabkan siswa memberikan perhatian yang lebih terhadap perguruan tinggi yang mereka masuki. Ada beberapa factor minat melanjutkan keperguruan tinggi yang bisa menumbuhkan minat tersebut. Sosialisasi merupakan salah satu cara untuk menjelaskan tentang perguruan tinggi pada peserta didik yang kurang mengetahui penting atau dampak positifnya dari melanjutkan ke perguruan tinggi, sosialisasi disini dengan menggunakan bimbingan kelompok khususnya untuk kelas XII yang telah siap untuk melanjutkan keperguruan tinggi. C. Pertanyaan penelitian. 1. Bagaimanakah upaya guru bk dalam meningkatkan minat melanjutkan ke perguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 ? 2. Bagaimanakah guru bk mengetahui factor pendukung dan penghambat minat melanjutkan keperguruan tinggi di SMA Negeri 1 kasihan tahun ajaran 2014/2015 ? Bab III Metode penelitian. A. Jenis penelitian. Secara teoritis format penelitian kualitatif berbeda dengan format penelitian kuantitatif. Perbedaan tersebut terletak pada kesulitan dalam membuat desain penelitian kualitatif, karena pada umumnya penelitian kualitatif yang tidak berpola.Format desain penelitian kualitatif terdiri dari tiga model, yaitu format deskriptif, format verifikasi, dan format grounded research. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif, yaitu penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu ataukelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi. (Koentjaraningrat, 1993:89). Selanjutnya penelitian kualitatifmenurut Moleong (2007:6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi,motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.Menurut Bogdan dan Taylor (1975) yang dikutip oleh Moleong (2007:4)mengemukakan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.Selanjutnya dijelaskan oleh David Williams (1995) seperti yang dikutip Moleong (2007:5) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah. kualitatif bertujuan memperoleh gambaran seutuhnya mengenai suatu hal menurut pandangan manusia yang diteliti. Penelitian kualitatifberhubungan dengan ide, persepsi, pendapat atau kepercayaan orang yang diteliti dan kesemuanya tidak dapat diukur dengan angka. B. Subjek dan objek penelitian. Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Objek penelitian adalah obyek yang dijadikan penelitian atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas XII baik IPA maupun IPS di SMAN 1 kasihan yang berjumlah 115 anak yang terdiri dari 75 perempuan dan 40 laki laki. Yang menjadi objek penelitian yaitu meningkatkan minat melanjutkan keperguruan tinggi di SMAN 1 kasihan. C. Tempat dan waktu pelaksanaan. Dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel. Istilah yang digunakan adalah setting atau tempat penelitian. tempat penelitiannya adalah SMAN 1 kasihan. Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 5 april 2015 s/d 5 mei 2015. D. Teknik pengumpulan data. Dalam penelitiaan ini, peneliti menggunakan 2 teknik pengumpulan data, yaitu : 1. Wawancara Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998) Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara : a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan. b. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu. c. Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan. Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu : a. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik. b. Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai. c. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat. d. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer. 2. Observasi Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian. Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena : a. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, b. berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif. c. Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari. d. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara. Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti. E. Alat pembantu pengumpulan data. Menurut Poerwandari (1998) penulis sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut, mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil penelitian. Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat Bantu (instrumen penelitian). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 3 alat bantu, yaitu : 1. Pedoman wawancara Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 2. Pedoman Observasi Pedoman observasi digunakan agar peneliti dapat melakukan pengamatan sesuai dengan tujuan penelitian. Pedoman observasi disusun berdasrkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara, serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan informasi yang muncul pada saat berlangsungnya wawancara. 3. Alat Perekam Alat perekam berguna Sebagai alat Bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tampa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung. F. Keabsahan dan keajengan penelitian. Studi kasus ini menggunakan penelitian pendekatan kualitataif. Yin (2003) mengajukan emmpat criteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut adalah Sebagai berikut : 1. Keabsahan Konstruk (Construct validity) Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang berukur benar- benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau Sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut Patton (dalam Sulistiany 1999) ada 4 macam triangulasi Sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu : a. Triangulasi data Mengguanakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memeiliki sudut pandang yang berbeda. b. Triangulasi Pengamat Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus bertindak Sebagai pengamat (expert judgement) yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data. c. Triangulasi Teori Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut. d. Triangulasi metode Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi pada saat wawancra dilakukan. 2. Keabsahan Internal (Internal validity) Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda. 3. Keabsahan Eksternal (Eksternal validity) Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama. 4. Keajegan (Reabilitas) Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi. Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memeperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menujukan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data. G. Teknik analisis data. Marshall dan Rossman mengajukan teknik analisa data kualitatif untuk proses analisis data dalam penelitian ini. Dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan (Marshall dan Rossman dalam Kabalmay, 2002), diantaranya : 1. Mengorganisasikan Data Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape recoeder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis secara verbatim. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang agar penulis mengerti benar data atau hasil yang telah di dapatkan. 2. Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan pola jawaban Pada tahap ini dibutuhkan pengertiaan yang mendalam terhadap data, perhatiaan yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam mekukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti kemudian kembali membaca transkip wawancara dan melakukan coding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokan atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat. Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang diteliti. Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokan tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan tema-tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat menangkap penagalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada subjek. 3. Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data Setelah kategori pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji data tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kemabali berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga dapat dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis tertentu, namun dari landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi mengenai hubungan antara konsep-konsep dan factor-faktor yang ada. 4. Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dan berdasarkan kesimpulan yang telah didapat dari kaitanya tersebut, penulis merasa perlu mencari suatau alternative penjelasan lain tetnag kesimpulan yang telah didapat. Sebab dalam penelitian kualitatif memang selalu ada alternative penjelasan yang lain. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdpat hal-hal yang menyimpang dari asumsi atau tidak terfikir sebelumnya. Pada tahap ini akan dijelaskan dengan alternative lain melalui referensi atau teori-teori lain. Alternatif ini akan sangat berguna pada bagian pembahasan, kesimpulan dan saran. 5. Menulis Hasil Penelitian Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu hal yang membantu penulis unntuk memeriksa kembali apakah kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakaiadalah presentase data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek dan significant other. Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari subjek dan significant other, dibaca berulang kali sehinggga penulis mengerti benar permasalahanya, kemudian dianalisis, sehingga didapat gambaran mengenai penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya dilakukan interprestasi secara keseluruhan, dimana di dalamnya mencangkup keseluruhan kesimpulan dari hasil penelitian.

TUGAS PORTOFOLIO. Disusun untuk memenuhi tugas PRAKTIKUM BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK. Dosen pengampu : Dra. Hj. Nur Wahyumiani, MA NAMA :JANDIKO SAPUTRA NIM :12144200045 PRODI :BIMBINGAN KONSELING KELAS :6A2 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA 2015 Tugas portofolio. A. Pengertian bimbingan konseling kelompok. 1. Pengertian bimbingan. Secara garis besar, bimbingan dapat dimaknai sebagai proses bantuan yang bertujuan membantu individu membuat keputusan penting dalam hidupnya yang biasanya terjadi pada seting pendidikan atau persekolahan. Bimbingan lebih bersifat pencegahan ( preventif ) yaitu bantuan untuk membantu individu dalam beradaptasi dan mencapai proses perkembangannya baik secara pribadi, intelektual, social, emosi, dan karirnya. 2. Pengertian konseling. Proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara atau media lainnya ( sms, bbm, telpon, email,chatting, dan lainnya ) oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah , agar bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi sehingga mampu menyesuaikan diri lebih efektif dilingkungannya berdasarkan norma-norma yang berlaku untuk tujuan yang berguna bagi individu yang memiliki masalah tersebut. 3. Pengertian kelompok. Kelompok pada dasarnya terbentuk dari sejumlah orang yang memiliki tujuan yang sama dan akhirnya membentuk suatu kelompok, kelompok juga bisa dibentuk dengan cara pemberitahuan. 4. Pengertian bimbingan kelompok. Menurut W.S.Winkel dan M.M. Sri Hastuti. (2004:111). Kegiatan bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada sejumlah individu dalam bentuk kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk membahas topik tertentu yang dipimpin oleh pemimpin kelompok bertujuan menunjang pemahaman, pengembangan dan pertimbangan pengambilan keputusan/ tindakan individu. 5. Pengertian konseling kelompok. Menurut jantika nurihsan (2006:24 ) yang mengatakan bahwa konseling kelompok adalah suatu bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 6. Pengertian bimbingan konseling kelompok. Proses pemberian bantuan oleh seorang yang ahli untuk siswa atau individu dengan system kelompok baik disekolah atau dimasyarakat agar individu atau kelompok tersebut berkembang secara optimal dalam hubungan social melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung agar mencapai proses perkembangannya baik secara pribadi, intelektual, social, emosi, dan karirnya. Dan bersifat preventif ( pencegahan ) dan kuratif ( penyembuhan ) serta kelompok tersebut terbetuk karena adanya suatu tujuan yang sama atau pun dengan pemberitahuan sebelumnya. B. Tujuan bimbingan konseling kelompok. Menurut winkel (1997:544 ) bimbingan konseling kelompok dilakukan untuk beeberapa tujuan, yaitu : 1. Masing-masing anggota kelompok memahami dirinya sendiri dengan baik dan menemukan dirinya sendiri. 2. Anggota kelompok menetapkan sesuatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dengan sikap dari perilaku yang lebih konstruktif. 3. Para anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka. 4. Para anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain. 5. Anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama, yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan harapan akan diterima orang lain. C. Manfaat bimbingan konseling kelompok. Dengan memperhatikan definisi bimbingan konseling kelompok sebagaimana telah disebutkan di atas, maka kita dapat mengatakan bahwa bimbingan konseling kelompok mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi layanan kuratif, yaitu layanan yang diarahkan untuk mengatasi persoalan yang dialami individu, serta fungsi layanan preventif, yaitu layanan konseling yang diarahkan untuk mencegah terjadinya persoalan pada diri individu. D. Macam-macam bimbingan konseling kelompok. Dalam bimbingan konseling kelompok terdapat berbagai macam bimbingan konseling kelompok yaitu : 1. Diskusi kelompok. Diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana murid-murid akanmendapat kesempatan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid dapat menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suaru masalah. Dalam diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggungjawab dan harga diri. Masalah yang mungkin dapat diduskusikan antara lain: - pembagian kerja dalam suatu kegiatan kelompok - perencanaan suatu kegiatan - masalah-masalah pekerjaan - masalah belajar - masalah penggunaan waktu senggang - masalah persahabatan, keluarga dsb. Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin 2. Karyawisata. Karyawisata atau field trip selain berfungsi sebagai kegiatan rekreasi atau metode mengajar, dapat pula berfungsi sebagai salah satu tehnik dalam bimbingan kelompok. Denagn berkaryawisata murid mendapat kesempatan meninjau objek-objek yang menarik dan mereka mendapat informasi yang lebih baik dari objek itu. Disamping itu murid-murid mendapat kesempatan untuk memperoleh penyesuaian dalam kehidupan kelompok, misalnya dalam berorganisasi, kerja sama, rasa tanggungjawab, percaya pada diri sendiri. Juga dapat mengembangkan bakat dan cita-cita yang ada. Dalam contoh seorang anak dapat kesempatan untuk mengembangkan kesenangannya dan bakatnya dalam peninjauan keproyek jalan raya. Ia dapat menunjukkan kemampuannya kepada teman-temannya dan mengembalikan harga dirinya. 3. Sosiodrama. Sosiodrama dipergunakan sebagai suatu tehnik didalam memecahkan masalah-masalah social dengan melalui kegiatan bermain peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu masalah social. Dalam kesempatan itu individu akan menghayati secara langsung situai masalah yang dihadapinya. Dari pementasan itu kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahanmasalahnya. 4. Home room program. Yaitu suatu program kegiatan yang dilakukan dengan tujuan agar guru dapat mengenal murid-muridnya lebih baik, sehingga dapat membantunya secara efisien. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas dalam bentuk pertemuan antara guru dengan murid diluar jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu. Dalam program home room ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan, sehingga murid-murid dapat mengutarakan perasaannya seperti dirumah. Dalam kesempatan ini diadakan Tanya jawab, merencanakan suatu kegiatan, menampung pendapat,dsb. Dalam contoh digambarkan guru merencanakan peninjauan keproyek jalan raya. Murid-murid diberikan kebebasan untuk berbicara, bertanya dan mengajukan usul. E. Langkah-langkah melakukan bimbingan konseling kelompok. Tahap pelaksanaan bimbingan kelompok menurut Prayitno (1995: 40) ada empat tahapan, yaitu: 1. Tahap I Pembentukan Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri ke dalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan yang ingin dicapai baik oleh masing-masing, sebagian, maupun seluruh anggota. Memberikan penjelasan tentang bimbingan kelompok sehingga masing-masing anggota akan tahu apa arti dari bimbingan kelompok dan mengapa bimbingan kelompok harus dilaksanakan serta menjelaskan aturan main yang akan diterapkan dalam bimbingan kelompok ini. Jika ada masalah dalam proses pelaksanaannya, mereka akan mengerti bagaimana cara menyelesaikannya. Asas kerahasiaan juga disampaikan kepada seluruh anggota agar orang lain tidak mengetahui permasalahan yang terjadi pada mereka. 2. Tahap II Peralihan Tahap kedua merupakan “jembatan” antara tahap pertama dan ketiga. Ada kalanya jembatan ditempuh dengan amat mudah dan lancar, artinya para anggota kelompok dapat segera memasuki kegiatan tahap ketiga dengan penuh kemauan dan kesukarelaan. Ada kalanya juga jembatan itu ditempuh dengan susah payah, artinya para anggota kelompok enggan memasuki tahap kegiatan keompok yang sebenarnya, yaitu tahap ketiga. Dalam keadaan seperti ini pemimpin kelompok, dengan gaya kepemimpinannya yang khas, membawa para anggota meniti jembatan itu dengan selamat. Adapun yang dilaksanakan dalam tahap ini yaitu: 1) Menjelaskan kegiaatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya; 2) menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya; 3) membahas suasana yang terjadi; 4) meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota; 5) Bila perlu kembali kepada beberapa aspek tahap pertama. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin, yaitu: 1. Menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka 2. Tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih kekuasaannya. 3. Mendorong dibahasnya suasana perasaan. 4. Membuka diri, sebagai contoh dan penuh empati. 3. Tahap III Kegiatan Tahap ini merupakan inti dari kegiatan kelompok, maka aspek-aspek yang menjadi isi dan pengiringnya cukup banyak, dan masing-masing aspek tersebut perlu mendapat perhatian yang seksama dari pemimpin kelompok. ada beberapa yang harus dilakukan oleh pemimpin dalam tahap ini, yaitu sebagai pengatur proses kegiatan yang sabar dan terbuka, aktif akan tetapi tidak banyak bicara, dan memberikan dorongan dan penguatan serta penuh empati. Tahap ini ada berbagai kegiatan yang dilaksanakan, yaitu: 1. Masing-masing anggota secara bebas mengemukakan masalah atau topik bahasan. 2. Menetapkan masalah atau topik yang akan dibahas terlebih dahulu. 3. Anggota membahas masing-masing topik secara mendalam dan tuntas. 4. Kegiatan selingan. Kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan agar dapat terungkapnya masalah atau topik yang dirasakan, dipikirkan dan dialami oleh anggota kelompok. Selain itu dapat terbahasnya masalah yang dikemukakan secara mendalam dan tuntas serta ikut sertanya seluruh anggota secara aktif dan dinamis dalam pembahasan baik yang menyangkut unsur tingkah laku, pemikiran ataupun perasaan. 4. Tahap IV Pengakhiran Pada tahap pengakhiran bimbingan kelompok, pokok perhatian utama bukanlah pada berapa kali kelompok itu harus bertemu, tetapi pada hasil yang telah dicapai oleh kelompok itu. Kegiatan kelompok sebelumnya dan hasil-hasil yang dicapai seyogyanya mendorong kelompok itu harus melakukan kegiatan sehingga tujuan bersama tercapai secara penuh. Dalam hal ini ada kelompok yang menetapkan sendiri kapan kelompok itu akan berhenti melakukan kegiatan, dan kemudian bertemu kembali untuk melakukan kegiatan. Ada beberapa hal yang dilakukan pada tahap ini, yaitu: 1. Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri. 2. Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-hasil kegiatan. 3. Membahas kegiatan lanjutan. 4. Mengemukakan pesan dan harapan. Setelah kegiatan kelompok memasuki pada tahap pengakhiran, kegiatan kelompok hendaknya dipusatkan pada pembahasan dan penjelajahan tentang apakah para anggota kelompok mampu menerapkan hal-hal yang mereka pelajari (dalam suasana kelompok), pada kehidupan nyata mereka sehari-hari. 5. Tahap mengevaluasi kelompok. Didalam tahap mengevaluasi kelomopok terdapat 4 titik penting yang menjadi pokok pembahasanannya, yaitu : a. Evaluasi diri sendiri. b. Evaluasi pemimpin kelompok. c. Evaluas anggota kelompok dan fasilitator. d. Evaluasi diri sendiri anggota. 6. Tahap sesi tindak lanjut. Dalam hal ini fasilitator kelompok harus : a. Merencanakan sesi tindak lanjut atau follow up. b. Mengembangkan sumber rujukan professional kepada siapa mereka dapat merujuk saat anggota kelompok melanjutkan kegiatan professional dengan fasislitator tidak mungkin, dan. c. Menginformasikan anggota kelompok sumber bantuan lainnya. Daftar pustaka. Edi, kurnanto M. ( 2013 ). Konseling kelompok. Bandung : CV alfabeta. Corey,Gerald. ( 2013 ). Teori dan praktek konseling & psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama Nur kholidah,Enik.( 2013 ). Bimbingan konseling social. Yogyakarta : azzagrafika. Zulkarnain, wildan. ( 2013 ). Dinamika kelompok. Jakarta : bumi aksara. http://belajarpsikologi.com/tahap-pelaksanaan-bimbingan-kelompok/ diakses tanggal 12 maret 2015. Pukul 17.43 WIB http://warnaa-warnii.blogspot.com/2013/01/pengertian-dan-tujuan-bimbingan.html diakses tanggal 12 maret 2015. Pukul 17.45 WIB

ANGKET SIKAP DAN MINAT BELAJAR SISWA Petunujuk Pengisian : 1. Perhatikan dan cermati setiap pertanyaan /pernyataan sebelum anda memilih. 2. Berilah tanda centang (v) pada jawaban anda. 3. Pilihlah masing-masing satu jawaban yang memang benar-benar sesuai dengan hati anda. 4. Jawablah dengan sikap jujur. Alternative ke 1. no Pertanyaan / pernyataan Pilihan jawaban SS S KS TS 1. Pelajaran ilmu pengetahuan alam ( IPA ) lebih mudah dari pada ilmu pengetahuan social ( IPS ). 2. Suasana sekolah sangat mendukung kegiatan pembelajaran. 3. Saya mengajak kawan-kawan belajar kelompok, bila mengalami kesulitan belajar. 4. Tiap malam saya belajar untuk materi besok pagi. Alternative ke 2. no Pertanyaan / pernyataan Pilihan jawaban SL SR K TP 1. Apakah anda selalu aktif bertanya dalam setiap sesion dalam presentasi ? 2. Saya terlambat masuk kelas 3. Saya bertanya kepada guru bila saya tidak faham 4. Saya mengobrol saat dosen menerangkan didepan ANGKET MOTIVASI BELAJAR. Petunujuk Pengisian : 1. Perhatikan dan cermati setiap pertanyaan /pernyataan sebelum anda memilih. 2. Berilah tanda centang (v) pada jawaban anda. 3. Pilihlah masing-masing satu jawaban yang memang benar-benar sesuai dengan hati anda. 4. Jawablah dengan sikap jujur. no Pertanyaan / pernyataan Pilihan jawaban SS S KS TS 1. Pertama kali saya melihat pembelajaran ini, saya percaya bahwa pembelajaran ini mudah bagi saya. 2. Materi pembelajaran ini lebih susah dipahami, dari pada yang saya harapkan. 3. Setelah mempelajari infrmasi pendahuluan, saya yakin bahwa saya mengetahui apa yang harus saya pelajari dari pembelajaran ini. 4. Menyelesaikan tugas tugas dalam pembelajaran ini membuat saya merasa puas terhadap hasil yang telah saya capai.

Selasa, 14 Oktober 2014

LAPORAN PENELITIAN BK BELAJAR UPY



LAPORAN PENELITIAN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah PRAKTIKUM BIMBINGAN KONSELING BELAJAR
Tentang DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK
Dosen pengampu        : Dr.H.Sukadari,SE,SH,MM.

NAMA           :JANDIKO SAPUTRA
NIM                :12144200045
PRODI           : BIMBINGAN KONSELING
KELAS          :5A2

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2014

KASUS
1 IDENTIFIKASI KASUS
Nama                                  :          RP
Jenis Kelamin                    :          Laki-laki
Kelas                                  :          VIII D SMPN 2 Kasihan,Bantul,Yogyakarta.
Tempat, tanggal lahir        :          Bantul, 16 januari 2001
Agama                               :          Islam
Suku                                  :          Jawa
Alamat                              :           Kasihan tamantirto, kasihan Bantul, Yogyakarta
Anak ke                             :          
Nama Orang Tua
Ayah               :           Watono.
Ibu                   :           Ani.
Pendidikan Terakhir Orang Tua
Ayah               :           SMP.
Ibu                   :           SMA.
Pekerjaan Orang Tua
Ayah               :           Buruh.
Ibu                   :           Buruh.
2  IDENTIFIKASI MASALAH
            Dari praktikum yang telah dilakukan berdasarkan informasi dan dari melihat tingkah laku anak tersebut secara langsung di sekolah, anak yang bernama RP adalah termasuk salah satu anak yang bermasalah dalam proses pembelajaran, mengapa demikian. Karena dari hasil wawancara dengan guru BK, guru BK sekolah tersebut sedikit banyak mengurai masalah yang terjadi pada diri RP. Di sekolah RP bukan termasuk anak yang tertib, tetapi apabila dalam masuk sekolah si RP tidak  pernah mengalami hal yang namanya telat, tetapi yang dikatakan tidak tertib disini adalah bahwa RP pernah membiarkan rambutnya panjang, padahal disekolah tersebut seorang anak harus mempunyai rambut yang rapi. Dan RP juga pernah mencoret-coret dinding WC di sekolah itu masalah yang bisa dikatakan bahwa siswa tersebut tidak tertib dalam peraturan yang di berlakukan disekolah tersebut. Menurut informasi yang diberikan oleh guru BK di sekolahnya si RP memang mengalami masalah terhadap 1) tata tertib disekolah, 2) memilih teman yang salah, 3) cara berpakaian yang tidak rapi.
            Dari informasi sang guru dan melihat langsung ke lapangan si RP memang mengalami masalah dan dilihat dari penampilannya, dan masalah yang berkaitana dengan kegiatan pramuka, padahal disekolah tersebut pramuka itu wajib, dia menjelaskan tidak pernah bolos pramuka tetapi kenyataannya berbeda dengan apa yang terjadi dilapangan secara langsung.
            3 IDENTIFIKASI MASALAH UTAMA DAN PENYEBABNYA.
            Pada absen dikelas si RP tidak memiliki masalah dan sesuai dengan identifikasi masalah yang telah saya jelaskan diatas, hanya saja dia memiliki masalah terhadap tata tertib apabila dikelas maupun diluar kelas, dikelas RP termasuk anak yang jail karena RP tidak bisa mengikuti pelajaran dengan diam, setiap dimulai pelajaran RP sengaja mengajak atau membuat temannya marah dan akhirnya terjadi keributan. Dalam pemilihan teman RP juga memiliki kesalahan, karena RP memilih teman bukan yang bisa memotivasi dirinya lebih baik tetapi malah sebaliknya  membuat dirinya menjadi lebih tidak tertib untuk melakukan tata tertib.
            Orang tua dari RP juga tidak pernah mengingatkan tentang penampilannya apabila berangkat kesekolah, karena setiap RP mau berangkat sekolah orang tuanya telah berangkat dulu untuk bekerja, jadinya anak tersebut tata tertib kurang diperhatikan
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dapat diketahui masalah utama dari kasus adalah “tidak memiliki pandangan tentang motivasi terhadap perubahan prilaku yang lebih baik dari sebelumnya” sehingga termasuk dalam permasalahan aspek pribadi dengan  penyebab utama masalah adalah sebagai berikut.

a.       Faktor di dalam siswa
1)      Rendahnya motivasi,
2)      Tingkah laku yang salah



b.      Faktor di luar siswa
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dapat diketahui penyebab utama masalah dari dalam diri siswa adalah sebagai berikut.
1)      Teman yang salah
2)      Pembentukan tingkah laku oleh orang tua yang salah

4. ANALISIS.
Dalam menganalisa kasus ini saya sendiri secara pribadi lebih condong ke arah teori behavioristik, konseling behavioral memiliki asumsi dasar bahwa setiap tingkah laku dapat dipelajari, tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku baru dan manusia memiliki potensi untuk berprilaku baik atau buruk, tepat atau salah. Selain itu, manusia dipandang sebagai individu yang mampu melakukan refleksi atas tingkah lakunya sendiri, mengatur serta dapat mengontrol perilakunya, dan dapat belajar tingkah laku baru atau dapat mempengaruhi perilaku orang lain ( Walker dan Shea, 1988,p.36 ).
Sebelum kita memnganalisa teori behavioristik dengan hubungan terhadap konseli saya tadi tidak salahnya kita mengenal sejarah dari teori behavioristik ini. Pendekatan behavior di awali pada tahun 1950-an dan awal 1960-an sebagai awal redikal menentang persepektif psikoanalisis yang dominan. Secara garis besar, sejarah perkembangan behavioristik terdiri dari tiga trend utama, yaitu :
a.       Kondisioning klasik    ( classical conditioning ).
b.      Kondisioning operan   ( operant conditioning ).
c.       Terapi kognitif            ( cognitive therapy ).
Dalam hal analisa terhadap konseli saya ini saya akan menggunkan trend yang pertama yaitu kondisoning klasik ( classical conditioning ). Saya menggunakan trend ini karena menurut saya pada masalah konseli ini sangat berkaitan dengan prilaku. Jadi saya menfokuskan pada perubahan prilaku, karena teori ini sangat focus dalam perubahan prilaku. Saya secara pribadi ingin mengubah prilaku konseli saya tersebut menjadi lebih baik karena dia sulit untuk menyesuaikan diri dengan tata tertib yang ada pada lingkungan sekolah yang berkaitan dengan sikap dan sifatnya. Sedangkan sikap dan sifat termasuk prilaku. Pada proses pengubahan prilaku tadi saya akan menggunakan percobaan Pavlov yang menggunakan seekor hewan dalam prosesnya. Mungkin dengan menggunakan trend ini akan memicu stimulus konseli tersebut untuk berkelakuan atau berprilaku lebih baik dari sebelumnya dan dapat menyesuaikan diri dengan tata tertib di lingkungan sekolah

PROGNOSIS.
Langkah – langkah
Proses kondisoning pada penelitian ini adalah stimulus yang digunakan dorongan dan sikap penerimaan. Pada percobaan pertama, tahapannya adalah conditioning stimulus ( CS ) berupa dorongan dan unconditioning stimulus ( US ) adalah sikap penerimaan serta unconditiong response ( UR ) bisa mengikuti tata tertib. Ketika percobaan pertama, dorongan dilakukan oleh teman terdekat dan tidak bisa mengikuti tata tertib, dan apabila di beri sikap penerimaan menghasilkan sikap bisa mengikuti tata tertib. Kemudian percobaan kedua proses kondisioning, CS berupa dorongan di ikuti US berupa sikap penerimaan dengan di ulang sebanyak 10 sampai 20 kali. Setelah terbentuk asosisi antar CS dan US, ketika CS diberikan berupa dorongan tanpa US berupa sikap penerimaan, diikuti CR yaitu bisa mengikuti tata tertib. Intinya apabila di beri sikap penerimaan maka konseli bisa mengikuti tata tertib, tetapi sebaliknya apabila hanya di berikan dorongan tanpa adanya sikap penerimaan hasilnya konseli tersebut tidak bisa mengikuti tata tertib, apabila di beri dorongan dan sikap penerimaan sudah bisa di pastikan bahwa konseli bisa mengikuti tata tertib dan akhirnya setelah melakukan ketiga hal tadi tanpa dikasih sikap penerimaan konseli tersebut masih tetap bisa mengikuti tata tertib karena telah melakukan proses tersebut. Jadi setelah di lakukan percobaan kedua dengan trendnya Pavlov akhirnya konseli bisa mengikuti tata tertib dan bisa membuatnya berubah dari titik ternyaman  dari dirinya. Di sini saya akan menampilkan gambar proses tersebut tetapi dengan menggunakan hewan bukan manusia.



Gambar : percobaan proses Pavlov.
index.jpg
Penanganan.
Teknik konseling behavioristik terdiri dari dua jenis yaitu teknik untuk meningkatkan tingkah laku dan menurunkan tingkah laku. Teknik meningkatkan tingkah laku antara lain adalah penguatan positif, token ekonomi, pembentukan tingkah laku, dan pembuatan kontrak. Tetapi pada proses ini sangat cocok dengan pembentukan tingkah laku atau shaping.
Penanganan yang di lakukan adalah dengan pendekatan behaviorisme dengan menfokuskan pada proses “ pembentukan tingkah laku “ langkah-langkahnya adalah

a.       Memberikan gambaran pembentukan tingkah laku baru dan hasil positif dari pembentukan tingkah laku baru tersebut supaya konseli bisa berpikir lebih baik.
b.      Menampilkan film yang berkaitan dengan sikap yang kurang tertib terhadap tata tertib di sekolah dan film tersebut harus menampilkan sisi negative dari sifat tersebut serta adanya adegan dari pemain film tersebut yang menyesal dengan prilakunya yang kurang tertib terhadap tata tertib disekolah. Makna dari filmnya tersebut harus membuat konseli tersebut berpikir bagaimana apabila prilaku kurang tertib terhadap tata tertib sekolah terus dilakukan, karena apabila prilaku tersebut masih seperti itu kita akan dijauhi oleh teman-teman dan akhirnya tidak mempunyai teman. Sehingga film ini harus membuat konseli tersebut berpikir harus memiliki banyak teman dengan cara menghilangkan prilaku yang sering melanggar tata tertib di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
Komalasari, Gantika dkk. ( 2011 ). Teori dan teknik konseling. Jakarta  barat : PT Indeks.
Nurihsan, achmad juntika dkk. ( 2011 ). Teori kepribadian. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Alwisol. ( 2012 ). Psikologi kepribadian. Malang : PT UMM Press.
Corey,Gerald. ( 2013 ). Teori dan praktek konseling & psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama















LAMPIRAN.

PROSES SAAT MELAKUKAN WAWANCARA DENGAN GURU BK SMPN 2 KASIHAN, BANTUL, YOGYAKARTA.

GURU BK ( BU JIRU )                                 SAYA ( JANDIKO SAPUTRA )
20141008_080811.jpg

20141008_093502.jpg
 KLIEN ( RANDI PRATAMA )
PROSES WAWANCARA DENGAN  KLIEN.
20141008_080820.jpg
20141008_093437.jpg
20141008_080906.jpg
20141008_075022.jpg
TEMAN SEJAWAT DALAM PROSES WAWANCARA DI SMPN 2 KASIHAN, BANTUL, YOGYAKARTA.
1.      YUNITA WULANDARI.
2.      SEPTIYANA PRATIWI.
3.      JANDIKO SAPUTRA
4.      EVI SUSANTI.